5-6 December 2009, Tempat yang sangat dekat dengan Jakarta tapi terpencil ini menyimpan keindahan alam yang luar biasa. Tidung sendiri terbagi menjadi 2 pulau yaitu Tidung besar disebalah barat yang berpenghuni dan Tidung kecil disebelah timur yang tidak berpenghuni. Kedua pulau ini dihubungkan oleh ICON pulau ini yaitu jembatan penghubung 2 pulau. Saya selalu menganggap sebelah mata daerah kepulauan seribu ini, dibenak saya kepulauan yang masih masuk wilayah DKI Jakarta ini tidak akan jauh kondisi joroknya dengan Jakarta daratan. Dan ternyata penilaian saya itu benar adanya setidaknya ketika memasuki dermaga daerah muara angke.
Yup memasuki daerah muara angke banjir air berwarna hitam ditambah bau busuk yang tidak bisa saya deskripsikan bau apa karena saking menyengatnya ditambah ketidak bersahabatan orang-orang sekitar dermaga membuat down mental temen perempuan saya , hmm setidaknya itu yang dia katakan setelah perjalanan pulang
. Gimana ngak down saya tanya orang2 dimana dermaga tempat perahu yang ke Pulau Tidung berada, ngak ada yg jawab mereka terlalu sibuk dengan pekerjaanya
. Ditambah salah masuk dermaga akhirnya naik turun benteng untuk menuju perahu yang ke Pulau Tidung. Hmmm kesan pertama ketika mau berangkat udah agak aneh, banjir air bau busuk, orang2 yang tidak bersahabat, naik turun benteng (karena salah jalan & ngak mau muter melewati genangan air yang bau busuk) dan terakhir setelah ketemu perahunya orang2 pada nyeletuk ‘Perahu yang ke pulau tidung tuh jelek dan banyak kecoanya’.
Dan ternyata celetukan orang2 tersebut sebagian besar benar walopun emang jelek tapi ngak jelek2 amat, tapi emang kecoanya sih berserakan hahaha. Tapi bagi saya hal2 tersebut bukan suatu yang menakutkan dan tidak akan pernah mengurungkan niat saya pergi ke pulau tidung.
Apabila ada orang yang mau bunuh diri terjun ke laut saya jamin dia akan mengurungkan niatnya tuk bunuh diri hahahaha soalnya air lautnya hitam berminyak bercampur kotoran manusia, ikan2 busuk dan sampah menyatu menjadi satu itulah muara angke
.
Tapi penumpang yang berangkat ke Pulau Tidung tidak sebanyak penumpang yang ke Pulau Pramuka jadi saya bisa tiduran dengan ‘agak’ nyaman tidak berdempet dempetan seperti sarden, walopun suasananya masih seperti para imigran pengungsi kapal hehe. Perahu yang ke pulau pramuka lebih dulu jalan sekitar pukul 6.30 dan sekitar 6.45 barulah perahu yang saya tumpangi berangkat.
Tips bagi orang-orang yang ngak kuat terhadap suasana seperti yang saya jelasin diatas lebih baik berangkat dari dermaga Marina Ancol yang tentunya ongkosnya lebih mahal hampir 10xlipat ato sekitar +-Rp300rb-an bandingkan dengan ongkos dari Muara Angke yang cuma Rp33rb. Tapi bagi saya menikmati suasana perjalanan diatas perahu yang jendelanya blong tanpa kaca membuat tangan saya bisa merasakan cipratan air laut atau kalo cape bisa sambil lesehan dan tiduran dengan alas tikar seadanya atau juga ngobrol sama orang2 pulau (sebutan tuk org2 yg tinggal di kep.seribu) itu suatu pengalaman yang seru yang tidak akan terjadi apabila saya naik dari Marina Ancol. Dan pabila mau main kesana lagi pun saya tetep kan memilih Dermaga Muara Angke karena faktor murahnya hehe
Lepas dari muara angke kondisi air laut masih hitam pekat dan sedikt kental karena berminyak sampe2 riaknya ngak terlalu kelihatan saking ketalnya, tapi sekitar 30 menit s/d 1 Jam setelah agak bosan ngobrol dan tanya2 tentang tidung sama orang pulau , air laut sudah mulai membaik tangan saya sudah berani di keluarkan tuk menikmati cipratan air lautnya. Tapi karena efek Antimo yang saya minum karena takut mabok itu mujarab banget, setelah itu sampe nyampe sekitar 3 jam perjalanan saya tidak sadarkan diri karena tidur saking lelapnya
dan setelah itu saya ngak mau minum antimo lagi karena efek ngantuknya masih saya rasakan sampe ke penginapan. Padahal niat saya minum antimo supaya ngak mabok dan bukan tuk tidur pulas selama di perjalanan hehe. Sekitar jam 10 lebih saya di bangunkan katanya sudah mau masuk ke dermaga pulau tidung.
Suasana di dermaga pulau tidung kontras banget sama suasana dermaga muara angke. Sepi tidak ada apa2 yang ada hanya beberapa gelintir tukang becak itupun pas saya keluar dari perahu dah hilang di booking penumpang laen. Tapi justru suasana sepi seperti inilah yag saya inginkan hehe. Turun dari perahu langsung jalan kaki dengan pedenya karena tidak takut akan nyasar di pulau yang kecil ini hehe. Setelah tanya2 losmen lima sodara di mana akhirnya ketemu juga tapi pas masuk losmen hmmmm kosong. Kantornya kosong tapi pintu terbuka, saya fikir hmmm ngak takut kemalingan apa hehe .. tapi sapa yg mo maling di pulau yang kecil gini hehe.
Halaman belakang losmen 5 sodara
Setelah cukup lama menunggu akhirnya Pak Haji pemilik losmen 5 sodara datang juga, dan setelah pilih kamar lalu Pak Haji ngasih no hp penyewaan perahu dan katering kalo pengen makan. Akhirnya pesen makan dan janji ke tukang perahu tuk snorkeling jam 1.30 siangan. Kenapa harus jam setengah dua siang karena efek ngantuk antimo masih terasa banget untuk menghilangkan efek tersebut harus di tambah jam tidurnya. Losmen ini satu2nya penginapan yang ada di Pulau Tidung kondisinya lumayan bersih ada satu kamar tidur+tempat tidur double, ruang tengah + TV,ruang tamu + kasur single, dapur, kulkas , kipas angin dan kamar mandi yg lumayan bersih dan semuanya itu di tebus dengan Rp.200rb per hari dan maksimal 6 orang. Saya pun memilih losmen yang halaman belakangnya menghadap laut lepas. Ketika berdiri di halaman belakangnya barulah sadar walaupun masih ada beberapa sampah2 plastik dan sampah daun2 kering di laut tetapi jernihnya air laut tidak bisa di sembunyikan oleh sampah2 tersebut bawaanya jadi kepengen nyemplung berenang hehe.. Sayang katanya demi keamanan Pak Haji memasang pagar pembatas antara halaman belakang dan laut padahal kalo tidak ada pagar pembatas kita bisa lebih menikmati jernihnya air laut.
Jam setengah dua siang akhirnya kami berangkat ke spot buat snorkeling di sekitar pulau payung sekitar 20 menit-an naik perahu dari pulau tidung besar. Dan ketika melewati ICON pulau tidung yaitu jembatan penghubungnya saya benar2 takjub dan sampai saat ini suasana tidak mengenakan di Muara Angke dah lupa dan tergantikan oleh suasana pulau dengan jembatan penghubungnya yang sangat indah. Ketidaknyamanan di muara angke dibayar kontan dengan keindahan pulau Tidung.
Snorkeling di pulau payung, perjalanan ke Pulau Payung dan kondisi terumbu karang diambil diatas perahu
Dan ketika sampai di spot snorkeling yang berair jernih dengan keindahan terumbu karangnya semakin menenggelamkan pengalaman di muara angke. Saya tidak menyangka disini punya terumbu karang yang bagus, bagi saya kondisi air dan terumbu karang disini lebih bagus ketimbang waktu saya diving di tanjung benoa Bali (setidaknya spot yang saya kunjungi kurang ok). Bedanya disini tidak ada yang menyediakan peralatan diving selain snorkeling (peralatan snorkeling pun seadanya hehe sewa sekitar 15rbuan), serta suasananya sepi banget tidak ada siapa2 serasa laut milik saya sendiri hehe. Juga berbeda dengan di Tanjung Benoa Bali dimana operator diving ada dimana-mana serta ramai sama wisatawan.
Setelah puas-puasin diri snorkeling di pulau payung walaupun kurang puas juga sekitar jam 4 ato 4.30 sore kami harus segera balik ke penginapan karena pengen menikmati suasana sore hari di jembatan.
Setelah ambil sepeda dan pompa sendiri ban sepedanya
Dan ternyata minggu subuhnya terjadilah kejar-kejaran sama sunrise hehe .. saya memacu sepeda lebih cepat dari hari kemaren karena takut kehilangan momen sunrise blue hour dan golden hournya dan inilah gambar-gambar pemandangan di sekitar jembatan penghubung pulau tidung besar dan kecil :
Setelah photo2 di pagi hari dengan berat hati jam 6 pagi harus sudah packing balik ke Jakarta karena perahu yang ke Muara Angke adanya hanya sehari sekali Jam 7 Pagi. Tapi pendataan di dermaga Tidung jauh lebih rapih di banding di muara angke. Bayar tiket diluar dan ditongkrongi 2 cewe pulau serta di data nama alamatnya. Beda banget ketika di Muara angke boro-boro didata bayarnya di atas perahu seperti naik angkot hehe.Di perjalanan pulang ini saya tidak lagi minum antimo karena kapok
Biaya perorang :
Ongkos perahu Muara Angke – P.Tidung Rp.33.000 (pp Rp.66.000)
Sewa peralatan snorkeling Rp.35.000
Makan Rp. 10.000 – Rp.15.000
Sewa Sepeda Rp. 15.000 seharian –> wajib soalnya cuma ini alat transportasi yang murah
Biaya yang di tanggung rame2 :
Losmen Rp. 200.000 perhari max 6 orang —> Bpk. Haji Abd Hamid 085888742129
Sewa perahu buat snorkeling Rp.250.000 —> Bpk. Wardi 085693565464
semakin banyak orang biaya akan semakin murah karena biaya losmen dan perahu buat snorkeling di tanggung rame2.
Oh iya buat komunikasi dan agar disana tak mati gaya bawa HP yang nomor depannya 085xxx.


:
Salam knal mas. Gokil mas utk perjalanannya! Tq ya atas infonya yg sangat jelas buat kita2 yg jg hobi traveling..Keep on traveling with nice pic ya mas.Gudlak!
@Reiza : salam kenal juga …. semoga bermanfaat infonya