[Sepeda] Warung Bandrek aka Warban – Dago

Jun 19, 2011 by     1 Comment     Posted under: Bandung, Gunung, Kota Bandung, New Posts, Sepeda

Warung Bandrek atau yang lebih dikenal Warban yang berlokasi kurang lebih 3.3. KM Timur Laut pintu gerbang Taman Hutan Djuanda, atau kurang lebih 7 KM dari simpang dago menuju arah dago atas, sudah menjadi magnet para goweser Bandung termasuk saya. Karena rasa penasaran yang tinggi dan juga ajakan temen gowes yg ingin kesana membuat keinginan buat ke Warban menjadi klop. Sudah terlalu sering kata warban terdengar di telinga saya, entah itu dari temen kantor atau rumah, menjadikan tempat ini tempat yang wajib di kunjungi buat saya sebagai goweser newbie. Dan ternyata setelah terlalu lama jalan di trek yang sepi bikernya, ketika meilihat gerombolan biker yang super banyak agak aneh juga suasananya .. benar2 ramai, bahkan lebih ramai dari spot biker Kiarapayung. Mungkin bisa jadi warban merupakan ibu kota goweser di bandung hehe. Perpaduan ketinggian, pemandangan yang keren dan udara yang dingin dan bersih beserta lokasi yang dekat dengan kota Bandung di tambah dengan kehangatan bandreknya menjadikan tempat ini favorit buat bersepeda.

Maka sekitar jam 6.30 pagi di mulailah gowes dari jalan ds.Cipadung menuju arah Cicaheum, selepas perempatan suci-pahlawan, kami pun ambil jalur yang menuju sadang serang dengan tujuan Cigadung lalu Dago Resort. Di daerah Cigadung arah Dago Resort jalan aspal bagus dan nanjak lumayan membuat betis pegal, dan setelah belajar dari pegalaman kalau terlalu banyak istirahat itu membuat lebih cape, di jalur ini cuman berhenti sebentar hanya untuk melepaskan dahaga di tenggorokan, setelah minum beberapa teguk saya paksakan kembali untuk melanjutkan sampai ke pertigaan menuju Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Dari sini walopun lumayan ngos-ngosan tapi tidak secape biasanya.


Dan disinilah suasana ramai biker mulai terasa, jalan super mulus dan nanjak menyambut ‘gerombolan’ biker sampai pintu gerbang Tahura Djuanda, dan di pintu gerbang Tahura ini banyak biker yang nongkrong entah itu lagi istirahat atau emang sampai sini tujuannya.  Tapi saya tetap lanjut dan selepas pertigaan jalan curug Omas dan jalan dago pakar utara – Negla, kondisi jalan aspal super mulus berganti dengan drastis. Kondisi jalan disini benar2 jalan aspal kampung yang terkelupas dan banyak batuan di sana-sini. Apalagi pas di tanjakan berat pertama yang menyambut saya, jalan malah berupa bebatuan di selingi batuan kerikil yang lumayan bahaya kalo lagi turun. Di pertengahan tanjakan pertama yang lumayan panjang tersebut ada ‘pitstop’ dan disini lumayan banyak biker yang ambil napas dan istirahat. Begitupin kami setelah ngos-ngosan berhenti sebentar di sini dan setelah perhatiin ternyata di tanjakan yang tadi saya lewati lumayan banyak juga biker yang turun dari sepedanya.

Karena ingin mempertahankan otot betis yang masih panas2nya hehe , setelah berhenti sebentar kami pun lanjut meneruskan sampai ke tempat tujuan warung Bandrek.  Agak sedikit surprise juga buat saya karena berdasarkan pengalaman orang2 yang pernah gowes kesana apalagi buat goweser newbie yang baru pertama kali ke warban (seperti saya)  mendengar kata2 tanjakan haram jadah atau putus asa , agak2 membuat mental ciut .. tapi ternyata sampai juga ke warban tanpa menuntun sepeda hehe, walopun lumayan membuat otot betis keras dan sangat ngos-ngosan hehe, sepertinya kata2 tanjakan haram jadah atau putus asa harus di perhalus karena akan menciutkan dan membuat malas beberapa goweser yang fisiknya pas-pasan untuk main ke warban. Padahal securam2nya tanjakan masih  ada jurus pamungkas yaitu menuntun sepeda, dan ternyata lumayan banyak juga yg menuntun sepeda dan jangan malu yang penting enjoy.


Suasana warban di  minggu pagi, benar2 seperti kota sepeda. Kiri kanan warung yang menyediakan tempat parkir khas sepeda yang berupa bambu panjang buat mengaitkan sadle sepeda  terisi semua. Saya belum pernah melihat suasana biker yang meriah dan banyak seperti itu. Suasana dingin dan landsacape sekitar warban yang keren serta pemandangan khas warung2 tradisional yang didominasi oleh bambu membuat suasana lebih damai walopun ramai oleh biker. Sepeda2 di gantung di atas bambu yang memanjang dan sangat banyak membuat suasana warban semakin unik.

Sampai di warban saya tidak mencoba bandreknya yang terkenal tetapi malah mencoba minuman bunga rosela dingin yang sangat seger, saking hausnya saya pesen 2 gelas haha. Setelah menikmati karedok dan gorengannya, kami pun leyeh2 sebentar dan setelah melihat kondisi matahari yang lumayan memanas kami pun harus balik lagi karena perjalanan pulang yang lumayan panjang juga hehe.

Rekap Trek :

  • Distance
    • 40.49 km
  • Duration
    • 3h:35m:13s
  • Avg Speed
    • 11.3 km/h
  • Max Speed
    • 50.2 km/h
  • Calories
    • 2106 kcal
  • Altitude
    • 700 m / 1205 m
  • Elevation
    • 509 m ↑ / 518 m ↓

Ternyata pengalaman setiap minggu menjajal jalur tanjakan di daerah Manglayang membuat lutut saya bisa lebih efisien dalam menggowes.  Sekedar info saja sebenarnya tanjakan2 sekitar Manglayang, Batu Kuda, Cipulus,Pasir angin dan Cilengkrang jauh lebih nanjak dan kondisi jalannya pun ada yg lebih ancur di banding trek di Warban.

1 Comment + Add Comment

  • [...] jalan kesini, kali ini mencoba trek berangkat yang berbeda dari biasanya, setelah beberapa kali ke warban yang lewat jalur biasa atau pulang turun lewat Cartil. Kali ini berangkat lewat belakang dan lewat [...]

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Contact : gun_ip@yahoo.com

Album Photo lengkap ada di : pictures.maleber.net