Bekantan di Hutan Mangrove pulau Tarakan

Apr 1, 2012 by     2 Comments    Posted under: New Posts, Pantai / Laut, Pulau Tarakan

Hutan Mangrove Kota TarakanKota tarakan yang berdiri di pulau Tarakan berada di sebelah utara Kalimantan Timur. Dan apabila terus ke arah utara, kurang lebih 100KM utara pulau Tarakan terdapat kota Tawau Malaysia, makanya tidak heran beberapa barang-barang yang di jual di pasar swalayan kota Tarakan berasal dari kota Tawau Malaysia. Agak miris perekonomian kita tidak bisa berdikari sendiri, itu menandakan jalur distribusi barang lebih cepat dan mudah di datangkan dari kota Tawau di banding dari dalam negeri sendiri. Tapi selama itu lebih menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat pulau Tarakan ya kenapa enggak, cuman agak disayangkan juga kenapa kita tidak bisa membikin jalur distribusi barang yang lebih baik. Pulau Tarakan terkenal dari jaman Belanda sebagai penghasil minyak bumi dan tak heran ketika jepang menginvasi Indonesia, ‘katanya’ pulau Tarakan lah pulau pertama yang diduduki oleh tentara Jepang karena kandungan minyak buminya yang melimpah.

Asal mula penamaan Tarakan berasal dari bahasa Tidung (suku/kaum nelayan), yaitu ‘tarak’ yang berarti bertemu dan ‘ngakan’ berarti makan. Jadi, tarakan bermakna adalah tempat bertemunya para nelayan unutk beristirahat mekan, maupun untuk keperluan lainnya. Kota ini pada awalnya adalah perkampungan kecil para nelayan, kemudian berkembang menjadi kota setelah diketemukan dan dieksploitasi sumbersumber minyak buminya pada tahun 1896 oleh perusahaan perminyakan milik Pemerintah Hindia Belanda Bataafsche Pettroleum Maatschappij (BPM).Seiring dengan meningkatnya aktivitas eksploitasi minyak bumi di Pulau Tarakan tersebut, maka mulailah berdatangan penduduk dari daerah sekitarnya dan dari luar daerah bak itu sebagai tenaga kerja yang dibawa oleh Belanda maupun mereka mengadu nasib karena terpikat untuk mencari rezeki. Sumber ciptakarya.pu.go.id

Dan lagi-lagi saya agak miris karena pulau Tarakan yang terkenal sebagai penghasil minyak bumi, tapi beberapa kendaraan mengantri lumayan panjang di pom bensin hmmmm no comment, karena saya di sini hanya ingin membicarakan suatu kelebihan Kota Tarakan di bandingkan kota lain di Indonesia. Yah kelebihan yang saya lihat adalah berdirinya hutan mangrove beserta penghuninya yang terkenal yaitu Bekantan tepat di pusat kota Tarakan. Saya sendiri tidak menyangka ketika parkir di jalan raya yang lumayan panas dan ramai ketika masuk ke suatu gerbang dan masuk seolah-olah saya sudah ada di negri antah berantah. Saya hanya menginjakan kaki beberapa langkah dari keramaian kota sudah langsung berada di rimbunan pohon-pohon bakau yang adem. Dan hutan mangrove tersebut juga di jadikan sebagai pusat konservasi monyet Bekantan yg terkenal itu. Bagi yang kurang tahu apa itu Bekantan, tapi sudah sering ke Dufan keterlaluan kalau ngak tau Bekantan yang di jadikan maskot Dufan.

Bekantan di Hutan Mangrove Pulau TarakanBekantan di Hutan Mangrove Pulau Tarakan

Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis. Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa dan hutan pantai di pulau Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunai). Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Untuk menunjang kemampuan berenangnya, pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaputnya. Selain mahir berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup.
Sumber : www.wikipedia.org

Saya kira konsep hutan kota seperti hutan mangrove di kota Tarakan perlu dikembangkan di tiap kota di Indonesia, bukan hanya menambah segar suasana udara di sekitar tetapi ikut melestarikan beberapa satwa khas daerah tersebut yang memang sudah sangat jarang. Walopun banyak kekurangan disana sini tapi saya cukup acungkan jempol juga buat pengelola disini, karena di hutan mangrove ini sudah disediakan jalur pejalan kaki yang terbuat dari kayu. Pengunjung tinggal jalan kaki mengikuti jalur kayu tersebut dan melihat-lihat Bekantan yang ada di pohon sekitar. Cuman ternyata satwa2 disini bukan hanya Bekantan saja karena ketika saya jalan di hamparan kayu-kayu yg sudah di tata rapih tsb ternyata cukup banyak juga ular kecil yang berseliweran hehe jadi tetap harus hati-hati :p .

Bekantan di Hutan Mangrove Pulau TarakanBekantan di Hutan Mangrove Pulau Tarakan

Sebenarnya ini hari terakhir saya di perjalanan saya ke kepulauan Derawan setelah sebelumnya lumayan cape berenang dengan Ubur-ubur danau Kakaban dan berenang mengejar-ngejar Pari Manta di pulau Sangalaki. Dan sambil menunggu flight yang jadwalnya sore hari maka lebih baik saya isi dengan kegiatan jalan-jalan di hutan mangrove ini.

Pagi hari jam 10.00 pagi waktu setempat cuaca dermaga di Derawan Cottages pulau Derawan benar-benar cerah. Agak berat juga harus pulang karena masih ingin lebih lama menikmati taman laut di sekitar sini. Dan yang membikin BT adalah cuaca di hari terakhir ini yang sangat cerah dan amat sangat bagus buat photo. Kondisi laut amat sangat tenang, berbeda ketika perjalanan berangkat dari Tarakan ke Derawan yang memakan waktu 3 jam lebih, kali ini karena tidak ada gelombang sama sekali waktu yang di tempuh dari Derawan ke Tarakan hanya membutuhkan sekitar 2 jam setengah. Ketika melihat ke arah laut speedboat yang kami tumpangi seolah-olah berjalan diatas jalan aspal hotmix yang amat sangat mulus. Tidak ada gerakan moncong speedboat yang naik turun.

Dan jam sekitar jam 12.30 akhirnya sampai juga di pelabuhan Tengkayu Tarakan, dan untuk mengisi waktu luang menunggu flight itulah kami akhirnya jalan-jalan di hutan mangrove. Akhirnya jadwal penerbangan jam 17.20 WITA tinggal beberapa saat lagi dan kami harus segera menuju bandara international Juwata Tarakan. Kali ini kami terbang dengan memakai jasa Lion Air setelah sebelumnya ketika berangkat memakai Sriwijaya Air. Kondisi pesawat Lion Air yang saya tumpangi sangat jauh terawat dan lebih bagus di banding Sriwijaya Air hehe dan mungkin tipe pesawatnya yg berbeda sih. Tetapi ada yang bikin rese yaitu ketika transit di Bandara Sepinggan Balikpapan kami harus turun hanya untuk menginjakan kaki di bumi Borneo untuk pertama kalinya (karena sebelumnya ketika berangkat pake sriwijaya walopun transit di Sepinggan tetapi kami tidak turun dari pesawat). Turun hanya untuk memutar jalan kaki masuk ke ruang tunggu bandara dan langsung keluar dan masuk lagi ke pesawat hmmmmm … transit yang anehhhh.

dan Alhamdulillah sekitar 2 jam berikutnya dari bandara Sepinggan Balikpapan, kami pun mendarat di Bandara Soekarno-hatta dengan selamat.

The End.

Artikel sebelumnya :
- Kepulauan Derawan, Berau – Kalimantan timur
- Pulau Maratua, Ubur-Ubur di Kakaban dan Pari Manta di Sangalaki

2 Comments + Add Comment

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Contact : gun_ip@yahoo.com

Album Photo lengkap ada di : pictures.maleber.net