Kampung Naga, Salawu – Tasikmalaya

Apr 14, 2013 by     No Comments    Posted under: Gunung, New Posts, Tasikmalaya

Kampung Naga, Salawu Tasikmalaya“Pareum Obor” itulah istilah yang sering diungkapan dalam asal-usul sejarah Kampung Naga, yang dalam bahasa Indonesia berarti “Mati Lampu”. Itu berarti asal-usul sejarah kampung Naga yang tidak ada kejelasan sejarahnya, seperti tidak ada titik terang sedikitpun yang menjadikan patokan sejarah Kampung Naga. Karena masyarakat Kampung Naga-nya sendiri sepertinya kurang mengetahui lebih detail seperti apa sih asal-usul, sejarah, siapa pendiri dan apa yang melatar belakangi berdirinya Kampung Naga ini. Ada beberapa versi sejarah asal usul Kampung Naga tetapi masyarakat kampung Naga-nya sendiri kurang meyakini berbagai versi yang beredar. Hilangnya jejak sejarah kampung Naga mungkin ada hubungannya dengan terbakarnya arsip/ sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. Ketika itu DI/TII membakar kampung Naga beserta arsip-arsip sejarahnya karena masyarakat kampung Naga yang lebih mendukung Presiden Soekarno. Dikarenakan masyarakat kampung Naga kurang simpati ke gerakan DI/TII maka dibakarlah perkampungan tersebut di tahun 1956.

Kampung Naga, Salawu Tasikmalaya Kampung Naga, Salawu Tasikmalaya
Kampung Naga, Salawu Tasikmalaya Kampung Naga, Salawu Tasikmalaya

Secara administratif Kampung Naga berada di desa Neglasari, kecamatan Salawu, kabupaten Tasikmalaya. Berada di lembah yang sangat subur yang di lintasi oleh sungai Ciwulan. Kurang lebih berada di tengah-tengah antara Garut dan Tasikmalaya kalau melintasi jalan raya Salawu Garut-Tasikmalaya. Yang berarti secara lokasi kalau dari arah barat (Bandung atau Jakarta) lebih dekat lewat Garut di banding lewat Tasikmalaya nya sendiri. Sebenarnya diperjalanan ini tidak secara khusus untuk main ke Kampung Naga, tetapi ketika itu lagi pulang jalan dari Pangandaran ke Bandung melewati jalur Tasikmalaya-Garut dan kebetulan di tengah perjalanan tersebut melewati plang nama Kampung Naga. Tidak ada salahnya sambil beristirahat (walo ternyata malah lebih cape wkk) berkunjung sebentar unutk sekedar melihat-lihat seperti apa suasana kampung Naga ini.

Kampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu Tasikmalaya
Kampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu Tasikmalaya

Penamaan kampung Naga sendiri tidak ada sangkutpautnya sama karakter Naga yang ada di film2 heh. Setelah ditanyakan kenapa di sebut Kampung Naga, ternyata kemungkinan besar kata Naga itu berasal dari “Nagawir” yang berarti perkampungan yang berada di gawir atau lembah, dan memang perkampungan ini berada di lembah yang asri dan bahkan tanah di perkampungan ini berkontur naik turun dan mungkin Nagawir kepanjangan sehingga orang lebih cepet tahu dengan kata Naga.

Kampung Naga ini sepertinya sudah menjadi salah satu desa wisata, karena menyediakan lahan parkir yang cukup luas di pintu gerbang desa nya. Ketika memasuki tempat parkir tersebut langsung disambut oleh guide resmi asli orang Kampung Naga. Keberadaan guide tersebut menandakan masyarakat disini sudah bener-benar sadar akan industri pariwisata. Dengan ramah guide tersebut menawarkan jasa mengantar jalan-jalan sepanjang kampung Naga, awalnya sebenarnya tidak terlalu perlu guide tetapi perlu juga guide untuk menjelaskan keadaan sekeliling kampung Naga. Yang paling pengaruh adalah karena keramahan guidenya yang membuat saya langsung menerima tawaran dia, dia tidak memaksa dan juga mempersilahkan kita masuk tanpa guide kalau emang tidak memerlukannya. Ini yang harus dijadikan pelajaran buat industri Pariwisata dimanapun, kalau keramah tamahan itu membawa rezeki. Mungkin akan berbeda kalo guide tersebut sedikit memaksa dan menakut-nakuti malah saya tidak akan pernah memakai jasa guide seperti itu.

Kampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu Tasikmalaya
Kampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu Tasikmalaya

Setelah itu guide mengantar rombongan menuruni anak tangga yang lumayan banyak, yg ada di pikiran ketika menuruni anak tangga tersebut adalah apakah otot lutut ini akan kuat untuk digunakan kembali ketika naik ke pintu gerbangnya hahaha. Kesan pertama ketika melihat-lihat sekeliling adalah suasana yang asri bersih tertata dengan rapih, walau jarak antar rumahnya yang sedikit berdekatan tetapi tertata dengan rapih dan tidak ada sampah secuilpun. Ini berbeda sekali waktu mengunjungi Kampung Adat Ammatoa di Kajang sulawesi Selatan, yang walau jarak antar rumahnya berjauhan dan halaman rumah asri serta bersih tetapi sedikit ada yang kurang, karena keadaan jalan desanya yang kotor karena sampah snack plastik yang membuat sedikit menggangu.

Kampung Naga, Salawu Tasikmalaya Kampung Naga, Salawu Tasikmalaya
Kampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu Tasikmalaya

Memasuki area kampung Naga, terlihat jejeran rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu menghadap Utara dan Selatan sehingga rumah-rumah tersebut memanjang dari Barat ke Timur dengan rapihnya. Yang unik adalah bentuk rumah2 disini sama, yang membedakan besar kecilnya saja karena itu tergantung luas tanahnya. Tiap rumah hanya mempunyai 2 pintu masuk/keluar dan hanya ada dari arah depan, dan pintu itupun berdampingan. Pintu pertama dipakai untuk keruang tengah/tamu serta pintu kedua di pakai untuk masuk ke dapur. Pintu dapur terbuat dari anyaman bambu yang agak jarang begitu pula dinding dapurnya, mungkin buat sirkulasi udara jadi bagian dapur memakai dinding dan pintu yang anyaman bambunya agak jarang2. Beberapa rumah agak saling berdekatan sehingga menyisakan gang yang lumayan sempit tetapi masih tertata dengan rapih. Kontur tanah yang naik turun membuat rumah-rumah yang ada disini juga terlihat saling menumpuk kalo dari kejauhan. Dibeberapa rumah ada yang menjual aneka cendramata khas kampung Naga, lagi2 mereka menata jualannya terlihat rapih tidak kumuh. Kelebihhan memakai jasa guide adalah ketika saya dipersilahkan masuk kerumah dia untuk melihat-lihat seperti apa keadaan rumah di kampung Naga. Tanpa ada sedikitpun alasan untuk menolak, langsung melihat-lihat keadaan rumah orang-orang di kampung Naga seperti apa. Tidak ada listrik yang berarti tidak ada peralatan elektronik membuat suasana kampung semakin sunyi dan alami. Orang-orang sekitar yang ramah juga membuat semakin betah melihat-lihat keadaan kampung. Sebenarnya ada beberapa rumah disini yang mempunyai tv tapi sumber listriknya dari accu bukan dari PLN, ada beberapa rumah yang memasang solarsel, tapi solarsel tersebut katanya hanya untuk ngisi accu.

Kampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu Tasikmalaya
Kampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu Tasikmalaya

Satu hal yang unik lagi, disini “katanya” tidak ada banyak nyamuk karena rumah sama toiletnya emang terpisah. Rumah2 disini tanpa toilet yang berarti tanpa ada air yang menggenang, sehingga rumahnya lebih terjaga kebersihannya. Karena mereka berfikir rumah itu untuk tempat tinggal bukan “kamar mandi”, sedangkan toilet ada di bawah dekat sungai ciwulan. Tetapi tidak kebayang kalau ada yang punya rumah di paling atas ketika malem2 ingin ke toilet harus turun menuju sungai yg lumayan jauh.

Kampung Naga, Salawu Tasikmalaya Kampung Naga, Salawu Tasikmalaya
Kampung Naga, Salawu TasikmalayaKampung Naga, Salawu Tasikmalaya
Cendramata Kampung Naga

Mereka cukup mengeluarkan istilah “Pamali” (atau padanan bahasa indonesianya Tabu) untuk melarang seseorang melakukan sesuatu. Seperti halnya ketika mau ambil gambar dibeberapa lokasi, guide melarang dengan sopannya dan ketika ditanya kenapanya, dia hanya bisa berkata “pamali”. Ketika guide melarang, saya harus tunduk ke aturan yang ada di kampung ini. Saya suka jengkel ketika melihat beberapa program acara di TV yang dengan bangganya men-film-kan suatu tempat/lokasi dengan sembunyi2 yang sebenarnya itu tidak diperbolehkan. Bukan masalah akan ada kutukan atau apalah .. tapi kita harus bisa menghormati aturan2 yang sudah di berlakukan di suatu tempat. Istilah “Pamali” lah yang mungkin membuat mereka lebih menghargai dan dan lebih menjaga keadaan alam sekitarnya.

Setelah cukup puas menjelajah perkampungan yang tidak terlalu besar tersebut, akhirnya harus kembali dan menjajal tingginya anak tangga yang tadi dilewati, dan baru kerasa ketika sampai di atas, hal pertama yang dilakukan adalah menuju warung buat beli sebotol air minum hahaha.

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Contact : gun_ip@yahoo.com

Album Photo lengkap ada di : pictures.maleber.net